Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Sunday, February 9, 2020

Mencintai Anugerah Tuhan

Mencintai sesederhana apapun berkah yang diterima, adalah sebuah perisai diri yang kuat dalam mengarungi arus zaman yang makin hari makin rumit dengan gaya hidup.







Hidup dalam keseimbangan

Keseimbangan antara kesendirian dan keramaian. hidup dalam satu hal saja dari itu akan berbahaya. dalam keseimbangan, tubuh akan menjadi sehat dan jiwa jiwa akan berkembang.


Bentuk hidup dalam keramaian kian berfariasi. Era digital semakin kuat, penggunaan media sosial terus berkembang pesat. Media sosial pada zaman kini tidak hanya untuk menjalin hubungan pertemanan di dunia maya, tetapi juga untuk berbagi ilmu pengetahuan, informasi, dan kontes eksistensi diri. Penggunaan media sosial merupakan manifestasi bentuk kehidupan keramaian dalam format digital. Segala sesuatu yang diunggah ke dalam media sosial dapat dilihat dengan sangat mudah dengan jangkauan yang sangat luas. Hal ini tentu sja dapat mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Masyarakat cenderung mengikuti gaya populer di media sosial dan tanpa sadar mengubah gaya hidup mereka, seperti mengubah gaya berpakaian, atau bahkan mengubah kebiasaan diet dan olahraga karena tren gaya hidup masa kini.

Interaksi di antara individu dengan kelompok membutuhkan toleransi, untuk menjaga keseimbangan dalam kelompok. Apalagi menyangkut manusia sebagai mahluk berakal-budi, yang senantiasa dikungkungi prinsip moral, yakni upaya menjaga stabilitas kelompok. Penyimpangan dari prinsip moral atau norma kelompok merupakan proses degradasi hubungan manusiawi, serta penurunan nilai kemanusiaan.

Keseimbangan merupakan kunci menikmati derasnya arus kehidupan. Hidup adalah anugerah terindah, yang harus dijalani dengan penuh kesungguhan untuk memberi manfaat orang lain.





Monday, January 27, 2020

Tradisi Nyekar

Nyekar adalah sebuah tanda cinta yang menggambarkan hubungan yang tak lepas saat raga terpisah, yang diwujudnyatakan dengan bersih-bersih, kiriman bunga, dan untaian doa. Tradisi nyekar juga dipakai untuk merefleksikan, bahwa hidup di dunia ada saatnya selesai.
Marilah kita pahat bentuk kehidupan kita menjadi bentuk yang indah selama kita diberi kesempatan.







Sunday, January 26, 2020

Memperindah Diri

Saat kita melihat orang lain menghias nampaklah hal yang indah dan baik. Marilah kita juga menghias diri dengan diri kita senyatanya, tanpa banyak topeng yang menutupi jati diri. 









Thursday, March 17, 2011

Menulasi Hutang


Dalam hidup, wajar apabila kita pernah punya hutang. Tentu rasanya kita pergi kemanapun hutang itu kita bawa. Lantas bagaimana supaya kita tak lagi berbeban karena hutang?

Karena tak punya uang, apakah dengan membuat hutang yang lain untuk menutupnya?
Jelas hal ini sama saja. Bahkan kita malah lebih banyak membuat wajah kita buruk di hadapan lebih banyak orang.

Lantas?
Selama masih ada barang yang kita miliki dan cukup berharga, kita jual saja. Dari pada punya harta dan hutang sekaligus. Paling tidak beban hidup agak teringankan, dan kita dapat berlari lebih cepat. Logikanya dengan hidup sedikit beban, pekerjaan dan hidup kita alah mendapatkan lebih banyak hasil yang lebih dari cukup untuk melunasi hutang kita.

Wednesday, January 27, 2010

Sound System dan Suara Hati




Pada suatu acara sound system tentunya sangat mendukung sukses tidaknya event tersebut. Apabila sound system kurang baik, tentu acara juga terganggu. Peran suara hati kita kadang saya pikir seperti layaknya sound system pada suatu acara. Apabila suara hati kita dalam kondisi baik dan normal, maka hidup kita terlihat benar dan menampilkan yang baik. Kalau dalam sound system ada orang yang merawat dan menjadi operator, maka suara hati juga mirip. Kita adalah operator, sekaligus teknisi perawatan dari suara hati kita masing-masing. Mari kita fungsikan suara hati kita, supaya kita terbebas dari korupsi dan tindakan kurang terpuji lainnya.

Thursday, January 14, 2010

Tari Topeng

Dalam hidup kadang kala kita memakai topeng yang kita gunakan untuk menutupi kelasahan, keburukan, atau menambah harga diri kita. Saat bertemu dengan teman kerja, sahabat, keluarga, dll kita pergunakan topeng yang berbeda-beda sesuai dengan keinginan kita. Demikian kita menjalani hidup bukan dengan wajah kita asli, penuh manipulasi, kepura-puraan. Mari kita gunakan muka kita, ukan dengan topeng untuk menjalani hidup.

Wednesday, January 13, 2010

Kerasukan Setan



Seperti hanya kesenian yang satu ini, namanya kuda lumping atau "jathilan" kalua orang di tempatku menyebutnya. Pemain dapat kesetanan, berlaku seperti "roh" yang masukke dalam tubuh. Tanpa menyadarinya, tingkah laku kita dalam hidup dan bermasyarakat kadang terasa seperti hanya para pemain kuda lumping yang kesetanan. Bertingka laku lepas kendali, tidak mengenali diri sendiri. Pepatah jawa bilang: "sapa sira, sapa ingsun" atau siapa anda, siapa saya. Barang kali kalau banyak orang yang semakin banyak yang sadar dengan keberadaan dirinya maka semakin sedikit korupsi. Mungkin sekarang waktunya kita kembali mengenali lagi siapa kita, dengan mendekat dan mengenal orang lain, dan pencipta kita.

Tahun Baru



Tahun telah berganti. marilah kita menata kembali hidup kita ditahun yang baru ini dengan memperbaiki kekurangan tahun lalu sehingga nantinya bangunan hidup yang kita bangun menjadi rapi, indah, dan nyaman bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Seperti lilin yag menyala, walaupun habis tetapi dirinya mampu menerangi orang lain, bermanfaat bagi ang membutuhkan penerangan. Sugeng warsa enggal.

Monday, November 23, 2009

Berlindung untuk mencari penerang



Saat kali kita merasa lelah atau jenuh, saat itu kita butuh keteduhan yang hanya kepada Tuhan kita dapatkan penerangan akal budi kita. Tantangan, masalah yang banyak tak terselesaikan, arus jaman yag semakin keras acap kali membuat orang lupa diri an terseret hingga tak dapat menemukan dirinya sendiri, dan pada akhirnya menjadi stes atau sakit jiwa yang parah.

Membangun Hidup




Hidup kadang kala terasa seperti membangun sebuah rumah. Dalam hidup perlu ada pengorbanan, semangat, kesetiaan, kerja keras, dll. Semoga hidup yang kita bangun menjadi sebuah bangunan yang tak hanya besar dan megah, namun sejuk, menyenangkan, dan nyaman untuk ditempati oleh banyak orang termasuk mereka yang singgah dalam kehidupan kita.

Thursday, October 15, 2009

Kursi, teman kita



Kursi adalah sebuah perabot yang memberikan kenyamanan dan dukungan. Itu datang dalam berbagai ukuran, warna dan gaya. Manusia dapat terlihat seperti kursi. Ada hampir sempurna, kursi yang nyaman dan luas. Kenyamanan kursi adalah orang-orang dengan tangan terbuka. Orang yang memberikan kebahagiaan dan menjadai sahabat baik untuk kita.

Di sisi lain, ada juga kursi yang terlihat baik, tetapi ketika Anda mencoba untuk duduk di atasnya, Anda menemukannya ketidaknyamanan atau disakiti. Ini melambangkan keadaan individu teman-teman yang tidak cocok untuk Anda. Mereka dapat mengkhianati dan meninggalkan engkau! Mereka mungkin terlihat baik dengan penampilan dan pendekatan, tapi sebenarnya mereka tidak baik hatinya.

Lihatlah orang-orang tanpa kita sadari seolah kursi yang sangat biasa. Ini fakta bahwa yang kurang dihargai kadang-kadang memiliki kualitas yang hebat dan sangat efisien. Orang-orang mungkin kadang-kadang suka menjauh karena suatu hal atau keadaan, mereka ini adalah yang asli dan jujur kepada Anda.

"Pilih kenyamanan lebih gaya dan warna"

Tong Sampah, belajar melupakan



Sampah sampah adalah untuk sampah. Hal-hal ini berisi semua hal-hal yang kotor di sekitar kita. Di rumah, kita tidak ingin memiliki rumah tangga yang berantakan. Itulah alasan mengapa kita menggunakan desinfektan, penyedot debu dan udara penyegar. Selalu merasa senang berada di tempat yang bersih dan bebas kuman.

Kita harus melakukan hal yang sama dalam hidup kita. Kita harus membuang semua hal buruk dalam hidup dan memasukkannya ke dalam tong sampah kita. Kita buang sampah sampah ini sehingga tidak lagi dapat dibuka dan tidak mendapatkan kembali apa yang kita telah masukkan ke dalamnya. Dengan kata lain, kita harus belajar cara lupa. Ibu selalu mengatakan bahwa aku harus membuang semua hal-hal negatif dalam diriku. Aku harus melupakan semua hal buruk di masa lalu dan berkonsentrasi dengan kehidupan sekarang dan berpikir lebih pada masa depan. Dia benar. Pemurnian diri sangat penting untuk menjadi seseorang dan memiliki kehidupan yang baik di depan.

Semut, kebaikan dari yang kecil



Perhatikan makhluk kecil merayap dan bekerja sepanjang hari hidup mereka. Mereka tidak pernah mengeluh. Mereka selalu siap. Ketika aku masih kecil aku benci, karena melukai saya begitu banyak ketika mereka menggigit. Dengan waktu berlalu aku merasa kasihan pada mereka, ketika rumah mereka dihancurkan oleh manusia atau binatang lain. Saya menyadari bahwa semut mengjarkan sesuatu kepada kita. Untuk menjadi pekerja keras, penuh ketekunan dan keberanian untuk mengejar hal-hal. Semut dianggap serangga dan entah bagaimana mereka bersama manusia di bumi untuk mewujudkan sesuatu yang baik, dari yang kecil.

"Ketika Anda jatuh, belajar bagaimana untuk berdiri"

Wednesday, September 30, 2009

RENUNGAN DARI SEORANG SAHABAT



Aku mencintaimu bukan melulu karena dirimu melainkan karena diriku inilah yang berada disisimu.

Tak seorangpun berhak atas tetesan air matamu, namun siapa yang seharusnya berhak tak pernah mengharapkannya.

Bila seseorang tidak mencintaimu sebagaimana engkau inginkan, bukan berarti bahwa engkau tidak dicintainya dengan segenap kasih sayangnya.

Sahabat sejati adalah dia yang memegang tanganmu dan menyentuh hatimu dengan kasihnya yang tulus .

Cara terburuk kehilangan seorang sahabat adalah ketika engkau duduk disampingnya dan engkau tidak menyadarinya kehadirannya.

Jangan pernah berhenti tersenyum sekalipun ketika sedang bersedih, siapa tahu seseorang jatuh hati justru pada senyumanmu itu.

Engkau mungkin hanyalah salah seseorang di dunia ini, namun bagi seorang engkau adalah seluruh dunia .

Engkau tidak harus melewati waktumu dengan orang yang tidak ingin melewati waktu itu bersamamu .

Pencipta mengharapankan engkau bertemu dengan orang sulit, sebelum engkau menemukan orang yang baik sehingga engkau bersyukur karenannya .

Tak usah menangis karena sesuatu telah berakhir, melainkan tertawa lah karena sesuatu terjadi.

Selalu saja ada orang yang menyakiti hatimu, Namun tetap lah mempercayai orang lain sekaligus bersikap hati-hati.

Berusahalah menjadi pribadi yang baik dan berhentilah mengharapakan orang lain akan mememahami dirimu.
Engkau tak perlu mengeluh terus menerus karena banyak hal-hal luar bisa terjadi ketika kita tidak mengharapkannya.

Friday, June 12, 2009

Merayakan Hidup (sebuah refleksi atas hidup yang telah kita jalani)

Berbicara mengenai perayaan, kita cenderung mudah membayangkan pesta-¬pesta yang gembira, menyenangkan dan meriah. Di sana kita dapat melupakan sementara waktu beban-beban hidup dan membenamkan diri dalam suasana musik, tarian, minuman, gelak tawa, dan pembicaraan ringan yang menyenangkan. Perayaan yang dimaksudkan di sini bukan yang seperti itu, mungkin kata yang dapat mewakili dan sudah biasa terdengar di telingan kita adalah syukur. Perayaan hanya mungkin kalau ada kesadaran yang mendalam bahwa kehidupan dan kematian tidak terpisah, ketakutan dan kasih, kegembiraan dan kesusahan, air mata dan senyum dapat berada bersama. Peraayaan adalah penerimaan kehidupan dalam kesadaran yang terus berkembang bahwa hidup itu benilai.

Hidup bernilai bukan hanya karena hidup dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan tetapi juga karena hidup suatu hari akan lenyap. Ketika dilahirkan kita menjadi bebas untuk bernafas, akan tetapi kehilangan keamanan yang yang diberikan seorang ibu. Saat melayat kematian, kita merayakan persahabatan yang hilang, sekaligus kebebasan yang diperoleh. Ketika mendapatkan pekerjaan, kita tidak lagi tergantung orang lain karena memiliki penghasilan sendiri, akan tetapi kita kehilangan dorongan yang kita dapat dari guru dan kawan. Saat pensiun kita akan cukup waktu untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki, akan tetapi kehilangan topangan yaitu merasa dibutuhkan orang lain. Kalau dapat merayakan kehidupan pada saat-saat yang menentukan seperti itu, dimana mendapatkan dan kehilangan selalu saling terkait, sebuah pelajaran kita peroleh dan kehidupan bahwa barang siapa kehilangan nyawanya akan menemukannya.

Orang yang mampu merayakan hidupnya dapat menghindar dari godaan untuk mencari kegembiraan atau kesusahan saja. Perayaan bertentangan dengan pelarian kenyataan, perayaan merupakan penerimaan hidup seutuhnya dengan segala keruwetannya. Dari pengalaman hidup tentu akan mendapat situasi dimana kita ingin sekali mengingkari kenyataan yang kita hadapi. Terkadang terasa berat untuk mengakui sesuatu yang tidak kita inginkan, pembenaran diri dengan segala macam bentukya kita lakukan untuk menutupi dan menyembunyikan. Tidak kita sadari pula munculnya suatu bentuk sikap pelarian. Ada tiga unsur penerimaan, yaitu: mengakui, mengenang dan mengharapkan.

Untuk merayakan hidup, dituntut lebih dahulu mengakui sepenuhnya keadaan. Kita berkata dengan kesadaran penuh: inilah kita, ada di sini, di saat kini. Kita hanya dapat merayakan apabila ada sesuatu hadir untuk dirayakan. Ketika napas dibanjiri dengan berbagai pikiran dan gagasan yang menjauhkan diri dari keberadaan kita, muncullah pekerjaan yang belum selesai, rencana untuk besok hari, situasi keluarga, dan hal-hal lain. Di sana akan banyak beribu-ribu pertanyaan muncul dan tidak didapat jawabnya, tentu keadaan ini membuat ketidakhadiran di tempat kita berada.

Walaupun secara fisik sudah hadir, namun hati dan pikiran berada pada suatu tempat yang tidak dapat dijangkau oleh orang lain dan sulit untuk diri sendiri. Kalau sedikit demi sedikit dan dengan teliti dapat menyingkirkan semua pengacau, kita akan mulai tersadar akan sesuatu yang selama ini telah menunggu untuk disadari, yaitu kita sungguh hadir pada diri kita sendiri. Dalam waktu yang sama pula akan kita sadari kehadiran orang lain yang ada bersama kita. Doa bersama akan berarti bahwa kita hadir satu bagi yang lain, tujuannya bukan hanya pemecahan atau pertolongan tetapi menjadi sebuah usaha untuk tampil dan siap digunakan satu sama lian, saling meneguhkan dengan berbagai macam cara masing-masing pribadi menghayati hidup.

Seseorang yang tidak memiliki masa lampau, ia tidak dapat merayakan masa kini dan tidak menerima hidup sebagai miliknya sendiri. Cara orang berhubungan dengan masa lampaunya sendiri menjadi sangat penting bagi pengalaman hidup. Masa lampau dapat menjadi penjara yang mengurung selama-lamanya, merasa malu, dikejar-kejar rasa salah; atau sebuah alasan untuk memuji diri, kesombongan dan rasa puas diri. Ada orang yang berkata dengan sesal, "seandainya waktu dapat kembali, tentu akan kuhidupi dengan cara yang lain"; orang lainnya dengan penuh keyakinan berkata, "mungkin Anda akan berkata kalau saya tua dan lemah, namun lihatlah banyaknya piala yang saya dapatkan".

Orang yang merayakan kehidupannya tidak menjadikan masa lalu menjadi sebuah penjara atau kesombongan, akan tetapi menghadapi kenyataan sejarah dan sepenuhnya menerima sebagai unsur yang memungkinkan untuk menyatakan bahwa hal itu adalah pengalaman pribadi. Saat mengenang orang-orang yang telah mendahului (meninggal), kita akan menyadari telah ditangah-tengah sejarah dan mengakui telah dibawa ke tempat sekarang, berada diantara mereka yang telah menghayati hidup.

Seandainya masa lampau adalah kata terakhir, semakin tua ia akan memenjarakan diri. Apabila masa kini adalah saat yang terakhir untuk mendapatkan kepuasan, orang akan mencengkeram dengan nafsu yang besar dan mencoba untuk memeras sampai tetes yang terakhir kehidupan ini. Akan tetapi masa kini memberikan janji dan membentang di hadapan kita, memungkinkan kita untuk marangkul masa depan seperti halnya masa lampau.

Perayaan diartikan sebagai pengakuan atas masa kini, dengan mengenang masa lampau dan mengharapkan lebih lagi akan masa depan. Namun kenyataannya hal ini sulit, jarang terjadi, masa kini lebih sering ditolak daripada diterima. Ketika Yesus meninggalkan murid-Nya, Ia memberikan roti dan anggur sebagi kenangan akan apa yang pernah dilakukan sehingga la dapat terus hadir. Kita mengenang peristiwa itu, menaruh harapan kepada-Nya.

Merayakan adalah sebuah tantangan yang paling sulit, yang harus dihadapi oleh orang modern. Orang modern tidak sekedar makan dan minum, tetapi mengenal makan siang untuk keperluan usaha bisnisnya atau makan malam untuk menyelesaikan urusan-urusan, dan ia selalu berpikir hal yang akan terjadi besok. Masa lampau menjadi suatu kesempatan yang sudah digunakan atau yang tidak digunakan, masa kini menjadi hal kekuatiran mengenai masa depan yang selalu menjadi dambaan. Kebudayaan kita adalah kerja, tergesa-gesa, kuatir, dengan berbagai macam kesempatan. Kita hanya bagian yang sangat kecil sejarah dan hanya memiliki hidup yang pendek. Akan tetapi kalau kita membawa buah karya di tangan dan mempersembahkan kepada Allah dengan keyakinan yang mendalam, bahwa Dia mendengarkan dan menerima persembahan kita, hidup menjadi sebuah anugerah untuk dirayakan.

Friday, June 5, 2009

Arti Hidup dalam Pekerjaan

Saya terinspirasi dengan sebuah cerita dari sebuah buku renungan seperti berikut ini:

Seorang siswa yang masih muda pernah sekali datang kepada Santo Philipus Nerius dan mengatakan kepadanya bahwa dia hendak mempelajari hukum. “ Betapa bahagianya saya. Saya akan mempelajari hukum dan menjadi seorang cendikiawan."
Philipus bertanya. “dan sesudah itu apa?” “ Saya akan menjadi seorang ahli seorang ahli hukum terkenal dan memperoleh kemasyuran.”
“Dan sesudah itu apa?” “Kemudian saya akan sangat kaya dan mendirikan rumah yang megah dan indah.”
“Dan sesudah itu apa.?” "Kemudian saya akan menikah dan hidup senang sampai akhirnya sampai usia tua.”.
Kemudian Philipus mengajukan pertanyaan yang sama. "Francis, sesudah itu, apa ?” Francis tidak tahu lagi harus memberikan jawaban apa, Tetapi sesudah berpikir sejenak, dia menjawab. “Kemudian seperti yang lain saya akan mati.”
“Dan sesudah itu apa?” Orang muda itu merasa sangat terganggu, tetapi dia menjawab dengan agak berat "Kemudian saya akan menanti untuk mengetahui pengadilan yang ditimpakan atas saya." Francis berhenti di sini, dia tidak dapat memberi lagi jawaban lebih lanjut. Pertanyaan ini membuat dia mengubah semua rencana demi masa depannya.

Ada banyak hal yang aku dapatkan dari cerita itu.
Arti hidup dari setiap orang khas dan unik. Mencari arti hidup dapat merupakan tugas yang membingungkan, menantang dan menambah ketegangan batin. Dikatakan bahwa orang yang sehat selalu memperjuangkan tujuan yang memberikan arti kehidupannya. Perjuangan yang terus-menerus itu akan menghasilkan kehidupan yang dipenuhi semangat dan kegembiraan. Dalam parjalanan hidup ada kalanya suatu kekosongan/kehampaan yang akhirnya muncul sebagai perasaan bosan, masa bodoh, dan tanpa tujuan. kehidupan tidak mempunyai arti dan tidak punya alasan untuk meneruskan kehidupan ini. Frank mengemukakan adanya tiga cara untuk memberi arti pada kehidupan dengan melalui apa yang kita berikan pada dunia, apa yang kita ambil dari dunia, dan sikap kita terhadap penderitaan.

Victor Frank mengemukakan 3 faktor, yang merupakan hakekat dari eksistensi manusia yaitu: spiritualitas, kebebasan. dan tanggung jawab. Spiritualitas diartikan sebagai roh atau jiwa. Roh-lah yang menggerakkan kita untuk berbuat, hidup dan ada. Roh ini pula yang memampukan kita untuk hidup, tertawa dan sedih, hahagia dan setia. Tubuh kita memiliki roh. dan selalu berhubungan dengan asalnya roh yaitu Allah. Roh memampukan kita beriman dan percaya pada Allah. Iman itulah yang memberikan landasan bagaimana kita hidup dan berbuat. Kita adalah mahluk spiritual yang hidup di dunia materi, kebutuhan paling mendalam akan cinta kasih dan persahabatan tidak akan terpuaskan oleh materi. Manusia tidak hanya hidup dari roti saja. Kita ditempatkan di atas bumi ini tidak untuk mengumpulkan “mainan” tetapi untuk menuai karunia roh. Karunia ini diberikan kepada kita jika kita mengabdikan hidup kita pada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, seperti jalan pelayanan di dunia (biarawan) atau adanya keluarga yang penuh kasih.

Kebebasan kita miliki dan kita perlu menggunakannya untuk memilih bagaimana kita akan bertingkah laku. Ada teriulis, "jikalau kamu tetap di dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakanmu " (Yoh 8:31b-32)

Menceritakan kebebasan pada diri kita sendiri, dan orang lain adalah suatu pembebasan, kebenaran memerdekakan dan membuat kita bebas. Kita jangan sampai didikte oleh faktor-faktor non spiritual (seperti insting), atau kondisi lingkungan. Mereka yang bebas tidak berkeinginan untuk menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sendiri. Meskipun ia memainkan peran-reran sosial untuk memenuhi tuntutan dari orang lain atau situasi-situasi. Oleh Carl Rogers dinyatakan bahwa semakin seseorang itu sehat (secara psikologis), makin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak sebagai reaksi terhadap situasi-situasi yang berubah. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa paksaan antara alternatif, pikiran dan tindakan. Perasaan bebas menjadikan orang berfungsi sepenuhnya.

Kita dituntut untuk tanggung jawab terhadap pilihan. "Hiduplah seolah-olah anda hidup untuk kedua kalinya, dan bertindak salah untuk pertama kalinya, kira-kira demikian anda bertindak sekarang." Jika kita berhadapan dengan situasi ini, kita akan tetap menyadari tanggung jawab yang kita miliki.

Frank mengemukakan bahwa orang sehat akan memikul tanggung jawab, menggunakan waktu dengan bijaksana agar karya dan kehidupan tetap berkembang, meskipun kodrat kehidupan singkat dan fana. Apabila kita mati sebelum kita selesai memahat bentuk kehidupan kita, apa yang telah kita kerjakan tidak ditiadakan. Suatu kehidupan yang penuh arti ditentukan oleh kualitasnya, bukan oleh usia yang panjang.

Ketrampilan dan tugas menjadi salah satu kriteria kepribadian matang dari Gordon Allport. Menurutnya, tidaklah cukup hanya memiliki ketrampilan-ketrampilan yang relevan, telapi kita juga harus menggunakannya secara ikhlas, antusias, melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita. Tidak akan mungkin kita temukan orang-orang yang sehat dan matang yang tidak mengarahkan ketrampilannya pada pekerjaan mereka. Komitmen, orang-orang sehat begitu kuat sehingga sanggup menenggelamkan semua pertahanan yang berhubungan dengan ego dan dorongan (seperti kebanggan dan jabatan) ketika terbenam dalam kejahatan.

Dedikasi terhadap pekerjaan ada hubungannya dengan tanggung jawab. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan kesehatan psikologis yang positif tanpa melakukan pekerjaan yang penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen, dan ketrampilan.

Untuk mencapai dan menggunakan spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab tergantung pada kita. Tanpa ketiga-tiganya, tidak mungkin menenemukan arti dan maksud dalam kehidupan ini. Pilihan-pilihan sungguh tergantung pada kita saja. Orang-orang lain dapat menganjurkan jalan yang harus diikuti, tetapi hanya diri kitalah yang dapat mengatakan bagaimana jalan itu berhasil atau tidak, pilihan itu benar dan salah.

++++ Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca. Kritik, saran, dan tanggapan saya terima dengan senang hati.

Thursday, May 7, 2009

MENGHITUNG HARI ( Sebuah Refleksi Ulang Tuhun )

5 Bola Kehidupan

Hidup dapat dibayangkan sebagai suatu permainan ketangkasan dimana kita harus memainkan keseimbangan 5 buah bola yang dilempar ke udara. Bola-bola tersebut bernama: pekerjaan, keluarga, kesehatan, teman, dan spirit. Tugas kita adalah harus menjaga agar ke-5 bola ini seimbang di udara. Pekerjaan hanyalah sebuah bola karet. Jika kita menjatuhkannya, maka ia akan dapat memantul kembali. Tetapi empat bola yang lain: keluarga, kesehatan, teman, dan spirit tersebut terbuat dari gelas. Dan jika kita menjatuhkan salah satunya maka ia akan terluka, tergores, pecah, atau bahkan hancur berkeping-keping. Dan mereka juga tidak akan kembali. Bagaimana menyeimbangkannya, membuat semua bola tidak jatuh ?

Untuk apa sebenarnya kita bekerja dengan bangun pagi, dan tidur larut malam? Untuk diri kita sendiri, keluarga, komunitas, atau masyarakat? Seringkali terlalu giat bekerja membuat lupa istirahat. Orang justru merasa sepi dan kosong tak berarti oleh karenanya. Mungkin kita seringkali berpikir bahwa karena kita punya banyak pekerjaan dan urusan, lalu hidup bersama menjadi kurang berarti. Yang muncul akhirnya adalah: selesaikan tugas dan urusan masing-masing, dan jangan mengganggu urusanku, karena aku juga tidak mengganggu urusanmu.

Hidup kita menjadi rapuh karena kita sibuk membandingkan nilai kita dengan membandingkan nilai orang lain. Tujuan dan sasaran kita didasarkan apa yang orang lain anggap itu penting. Sesuatu yang dekat di hati dianggap remeh, dijauhkan, walaupun itu bagian yang membuat kita hidup. Nilai hidup kadang kala hilang sehingga banyak hal menggerogoti jiwa kita. Membiarkan hidup terpuruk dengan hidup di “masa lampau” atau dalam mimpi masa depan. Menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat kita berikan. Takut mengakui bahwa kita tidak sempurna. Takut menghadapi resiko. Menutup hati dengan cinta yang masuk dalam hidup kita. Berlari, meskipun hidup tampak sangat cepat, sehingga kita lupa dimana kita berasal dan sedang menuju kemana. Lupa, kebutuhan emosi terbesar dari seseorang adalah kebutuhan untuk merasa dihargai, yang itu kita dapat dari orang-orang didekat hidup kita.

Setiap manusia di dunia ini mengalami siklus kehidupan yaitu lahir, menjalani hidup dan akhirnya mati. Setiap orang yang mengalami kehidupan di dalam dunia terjadi bukan karena kehendaknya sendiri melainkan kehendak Tuhan. Pemazmur mengatakan bahwa hidup seperti rumput, sebentar kering dan mati. Ada pula pepatah jawa mengungkapkan “ urip iku mung mampir ngombe ”, hidup itu hanya singah untuk minum. Siapa yang tahu para wisatawan yang sedang bergembira menikmati keindahan alam akan tekena bom, atau siapa yang tahu rumah akan roboh dan rata dengan tanah karena gempa bumi.


Panjang Umur Seperti Pohon Pinus

Awal tahun selalu menyisakan sebuah pertanyaan: akankah kita dapat menyambut dan merayakan awal tahun yang akan datang seperti sekarang? Benar bahwa hidup di dunia ini penuh ketidakpastian. Apa yang ada pada sekarang, keluarga, pekerjaan, kesehatan, harta-benda, bahkan nyawa kita bisa hilang dari kita diwaktu yang kita tidak tahu. Dan makin banyak orang menilai hal yang paling tidak bisa dipastikan adalah masa depan, maka orang menyusun upaya sedemikian rupa untuk mengurangi kekuatiran akan masa depan dengan berbagai rencana investasi. Sampai-sampai karena kuatir dan cemas itu, banyak orang menjadi tidak bisa membedakan antara tujuan dan sarana hidup, tidak ada rasa puas dan syukur. Orang menjadi jauh untuk merayakan hidup itu sendiri, sesuatu yang pantas disyukuri.

Menghitung hari dapat membuat kita menjalani hidup dengan lebih bijaksana, paling tidak sadar untuk sejenak. Kita masing dapat mengingat bahwa jabatan, popularitas, harta, pekerjaan, dan kesehatan yang dapat berlalu. Kita menjadi tidak lagi menggantungkan diri pada semua itu, minimal kita tidak akan setres karena kelekatan duniawi. St Ignatius dalam Latihan Rohani menulis: “Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Karena itu, manusia harus mempergunakannya, sejauh menolong untuk mencapai tujuan tadi dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut, sejauh itu merintangi dirinya”.

Yang lain adalah mengingat orang-orang yang ada disekitar kita : anak, istri, suami, orang tua, teman, akan berlalu. Maka mereka pantas untuk kita hargai. Sebab kalau sudah tidak ada, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kemudian mengingat waktu yang kita punya akan berlalu, maka tidak perlu menunda-nunda lagi. Hidup kita akan berlalu, cepat atau lambat, tetapi itu tidak terlalu penting. Karena yang lebih penting adalah bagaimana kita menjalani hidup ini. Apa yang ingin dikenang orang kepada kita?

Kebudayaan cina menjunjung tinggi umur panjang sebagai ukuran kebahagiaan. Lambangnya adalah pohon pinus, biasa hidup di pegunungan, umurnya dapat mencapai empat ratus tahun. Sebab itu sebagai lambang umur panjang, pohon pinus sering muncul dalam lukisan cina. Kaisar Qin Shi Huangdi membentuk tim untuk meneliti dampak kimiawi pelbagai mineral untuk memperpanjang umur. Pelbagai tanaman dan ramuan diteliti khasiatnya, jenis-jenis senam dan jurus dikembangkan.

Demikian pula meditasi dilihat sebagai upaya memperpanjang umur, dimana orang mencari keheningan, ketenangan, berdamai dengan diri sendiri, orang lain, dan alam. Sebuah papatah Cina berkata “Gaya hidup kura-kura, tidak gundah atau marah, tidak bertingkah atau serakah, hidupnya seratus tahun”. Pohon pinus yang tua memberi pengayoman dan perlindungan yang lebih teduh. Awet hidup menjadi baik dan bijak, adalah hati penuh damai yang dapat membayar semua.


Mendaki Puncak

Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Manarik sekali kalau kita mencermati ungkapan ini. Benar kalau dikatakan dengan berjalannya waktu, akan semakin tua usia, namun belum tentu yang tua itu orang yang dewasa. Kalau orang ingin dewasa, itu adalah pilihan hidup dan harus ada usaha yang dilakukan untuk itu. Salah satu ciri orang yang dewasa adalah hidupnya penuh hikmat dan kebijaksanaan. Maka kita minta kepada pemberi waktu supaya dimampukan untuk menghitung hari-hari yang kita lalui agar dapat memperoleh hati yang bijaksana. Menghitung hari bukanlah menghitung secara harafiah, tetapi berusaha membuat hari-hari yang kita lalui bermakna dan belajar tentang hidup. Kita harus berubah dari waktu ke waktu.

Hidup ini indah, terutama jika kita mengetahui posisi dimana kita berada. Sayang kita tidak selalu bisa melihat rencana pemilik hidup di balik peristiwa dalam hidup kita, terutama kalau menyakitkan dan sulit kita terima. Kita cenderung melarikan diri, mengelak dari permasalahan, dan akhirnya mencari kambing hitam. Oleh karena itu, ketika sukacita mewarnai hari-hari kita, janganlah kita berpuas hati, lalu kita menjadi lupa diri, egois, lepas akan kodrat kita sendiri.

Dalam hal hidup rohani, St Ignatius mengungkapkan bahwa, dalam diri kita ada tiga kekuatan yang mempengaruhi pemikiran dan cara bertindak, yaitu: kodrat kita sendiri, roh baik, dan roh jahat. Oleh karenanya, untuk mengambil keputusan yang tepat, tidaklah cukup hanya sadar dengan tujuan hidup kita, tetapi juga perlu membedakan macam-macam gerakan roh.

Paul G. Stoltz seorang pendaki, dalam bukunya Adversity Quontients mengatakan bahwa tak semua pendaki mampu menaklukkan puncak gunung sebab pendakian harus melalui proses panjang. Ada tiga karakter utama para pendaki: pertama, Quitters, yaitu pendaki yang langsung mengurungkan niatnya setelah mendengar atau melihat sendiri keadaan yang akan dilalui. Kedua, champers, yaitu pendaki yang tidak melanjutkan ke puncak, karena sudah mendapatkan tempat yang indah sebelum ia mencapai puncak. Ketiga, cruisers, yaitu para pendaki yang bertekad bulat manaklukkan puncak gunung.

Ibarat puncak gunung adalah tantangan hidup, maka karakter orang juga ada tiga, yaitu: mundur dan lari menjauh dari lintasan, mogok tengah jalan, atau maju terus. Dengan Feeling yang terwujud dalam pengetahuan, kecerdasan, ketrampilan, dan semangat (spiritualitas) semoga dapat menjadi sarana meneruskan kembali langkah mencapai “puncak gunung” dalam hidup kita masing-masing.

*) Artikel ini bisa anda baca pada rubrik Jendela, majalah Bianglala, edisi 048/THVIII/MEI 2009

Wednesday, March 4, 2009

Ruang Belajar di hati kita


Di tengah-tengah jaman yang modern dan dengan berbagai kesibukan yang menyertainya, terkadang kita sering mengatakan belajar itu mudah. Tapi belum tentu kita dapat belajar dari kesalahan. Dalam belajar tentu hal yang biasa kalau melakukan kesalahan, tapi kadang kita sulit membetulkan, bahkan hanya untuk menerima kesalahan itu saja. Dalam bangku-bangku belajar kita sering kosong, kita sebagai orang yang belajar tidak berada di tempat, atau tidak mau masuk untuk belajar memperbaiki. Apakah kita mau masuk ke tempat belajar di ruang hati kita sendiri? apakah Sudah siap hati kita untuk mengisi kekosongan ruang kehidupan kita?