Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

Sunday, January 26, 2020

Banjir yang Mewarnai Hidup

Hidup tak selalu manis. Ada kalanya kita menghadapi tantangan dan halangan ibarat banjir. Bagaimana sikap kita menghadapi itu dengan sebaiknya? menyerah? atau kita hadapui dengan senyum?




Thursday, April 15, 2010

Menggapai Kebahagian Sejati dengan Hati



Tuhan menganugerahkan otak dan hati. Namun, kecenderungan yang terjadi, masyarakat lebih suka memakai otak. Pada dasarnya manusia selalu ingin mencapai kebahagiaan. Akibat terlalu dominan memakai otak, maka manusia menjadi tidak seimbang. Orang yang mencari kebahagiaan dengan otaknya hanya akan mencapai kebahagiaan sementara.

Efek samping dominasi kerja otak seperti banyak pikiran, khawatir, takut, kecewa, curiga, sedih, mudah tersinggung, tidak sabaran, dan tidak puas dalam segala hal. Akibat dari semua itu adalah orang tersebut tidak dapat menikmati hidup.

Sebagai kunci spiritual, hati bisa menyadari dan menerima berkat Tuhan. Dengan hati, kita bisa menyadari hidup dan beribadah kepada Tuhan. Hati merupakan pusat rasa tenang, damai, nyaman, indah, bahagia yang bersumber dari Tuhan. Hati menentukan hubungan kita dengan Tuhan. Melalui hati, kebahagiaan sejati dapat kita raih.

Hati yang fungsinya dioptimalkan memungkinkan seseorang untuk semakin dapat mengasihi sesama, saling mengerti dan menerima, tidak mudah khawatir, semangat, dan dekat dengan Tuhan. Dengan memanfaatkan hati, seseorang akan mengalami kesehatan fisik, mental, emosional, dan spiritual. Keselarasan berbagai aspek hidup sehari-hari seperti bisnis, pendidikan, sosial, maupun pribadi menjadi semakin berkualitas.

Monday, November 23, 2009

Membangun Hidup




Hidup kadang kala terasa seperti membangun sebuah rumah. Dalam hidup perlu ada pengorbanan, semangat, kesetiaan, kerja keras, dll. Semoga hidup yang kita bangun menjadi sebuah bangunan yang tak hanya besar dan megah, namun sejuk, menyenangkan, dan nyaman untuk ditempati oleh banyak orang termasuk mereka yang singgah dalam kehidupan kita.

Wednesday, September 30, 2009

RENUNGAN DARI SEORANG SAHABAT



Aku mencintaimu bukan melulu karena dirimu melainkan karena diriku inilah yang berada disisimu.

Tak seorangpun berhak atas tetesan air matamu, namun siapa yang seharusnya berhak tak pernah mengharapkannya.

Bila seseorang tidak mencintaimu sebagaimana engkau inginkan, bukan berarti bahwa engkau tidak dicintainya dengan segenap kasih sayangnya.

Sahabat sejati adalah dia yang memegang tanganmu dan menyentuh hatimu dengan kasihnya yang tulus .

Cara terburuk kehilangan seorang sahabat adalah ketika engkau duduk disampingnya dan engkau tidak menyadarinya kehadirannya.

Jangan pernah berhenti tersenyum sekalipun ketika sedang bersedih, siapa tahu seseorang jatuh hati justru pada senyumanmu itu.

Engkau mungkin hanyalah salah seseorang di dunia ini, namun bagi seorang engkau adalah seluruh dunia .

Engkau tidak harus melewati waktumu dengan orang yang tidak ingin melewati waktu itu bersamamu .

Pencipta mengharapankan engkau bertemu dengan orang sulit, sebelum engkau menemukan orang yang baik sehingga engkau bersyukur karenannya .

Tak usah menangis karena sesuatu telah berakhir, melainkan tertawa lah karena sesuatu terjadi.

Selalu saja ada orang yang menyakiti hatimu, Namun tetap lah mempercayai orang lain sekaligus bersikap hati-hati.

Berusahalah menjadi pribadi yang baik dan berhentilah mengharapakan orang lain akan mememahami dirimu.
Engkau tak perlu mengeluh terus menerus karena banyak hal-hal luar bisa terjadi ketika kita tidak mengharapkannya.

Friday, June 12, 2009

Merayakan Hidup (sebuah refleksi atas hidup yang telah kita jalani)

Berbicara mengenai perayaan, kita cenderung mudah membayangkan pesta-¬pesta yang gembira, menyenangkan dan meriah. Di sana kita dapat melupakan sementara waktu beban-beban hidup dan membenamkan diri dalam suasana musik, tarian, minuman, gelak tawa, dan pembicaraan ringan yang menyenangkan. Perayaan yang dimaksudkan di sini bukan yang seperti itu, mungkin kata yang dapat mewakili dan sudah biasa terdengar di telingan kita adalah syukur. Perayaan hanya mungkin kalau ada kesadaran yang mendalam bahwa kehidupan dan kematian tidak terpisah, ketakutan dan kasih, kegembiraan dan kesusahan, air mata dan senyum dapat berada bersama. Peraayaan adalah penerimaan kehidupan dalam kesadaran yang terus berkembang bahwa hidup itu benilai.

Hidup bernilai bukan hanya karena hidup dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan tetapi juga karena hidup suatu hari akan lenyap. Ketika dilahirkan kita menjadi bebas untuk bernafas, akan tetapi kehilangan keamanan yang yang diberikan seorang ibu. Saat melayat kematian, kita merayakan persahabatan yang hilang, sekaligus kebebasan yang diperoleh. Ketika mendapatkan pekerjaan, kita tidak lagi tergantung orang lain karena memiliki penghasilan sendiri, akan tetapi kita kehilangan dorongan yang kita dapat dari guru dan kawan. Saat pensiun kita akan cukup waktu untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki, akan tetapi kehilangan topangan yaitu merasa dibutuhkan orang lain. Kalau dapat merayakan kehidupan pada saat-saat yang menentukan seperti itu, dimana mendapatkan dan kehilangan selalu saling terkait, sebuah pelajaran kita peroleh dan kehidupan bahwa barang siapa kehilangan nyawanya akan menemukannya.

Orang yang mampu merayakan hidupnya dapat menghindar dari godaan untuk mencari kegembiraan atau kesusahan saja. Perayaan bertentangan dengan pelarian kenyataan, perayaan merupakan penerimaan hidup seutuhnya dengan segala keruwetannya. Dari pengalaman hidup tentu akan mendapat situasi dimana kita ingin sekali mengingkari kenyataan yang kita hadapi. Terkadang terasa berat untuk mengakui sesuatu yang tidak kita inginkan, pembenaran diri dengan segala macam bentukya kita lakukan untuk menutupi dan menyembunyikan. Tidak kita sadari pula munculnya suatu bentuk sikap pelarian. Ada tiga unsur penerimaan, yaitu: mengakui, mengenang dan mengharapkan.

Untuk merayakan hidup, dituntut lebih dahulu mengakui sepenuhnya keadaan. Kita berkata dengan kesadaran penuh: inilah kita, ada di sini, di saat kini. Kita hanya dapat merayakan apabila ada sesuatu hadir untuk dirayakan. Ketika napas dibanjiri dengan berbagai pikiran dan gagasan yang menjauhkan diri dari keberadaan kita, muncullah pekerjaan yang belum selesai, rencana untuk besok hari, situasi keluarga, dan hal-hal lain. Di sana akan banyak beribu-ribu pertanyaan muncul dan tidak didapat jawabnya, tentu keadaan ini membuat ketidakhadiran di tempat kita berada.

Walaupun secara fisik sudah hadir, namun hati dan pikiran berada pada suatu tempat yang tidak dapat dijangkau oleh orang lain dan sulit untuk diri sendiri. Kalau sedikit demi sedikit dan dengan teliti dapat menyingkirkan semua pengacau, kita akan mulai tersadar akan sesuatu yang selama ini telah menunggu untuk disadari, yaitu kita sungguh hadir pada diri kita sendiri. Dalam waktu yang sama pula akan kita sadari kehadiran orang lain yang ada bersama kita. Doa bersama akan berarti bahwa kita hadir satu bagi yang lain, tujuannya bukan hanya pemecahan atau pertolongan tetapi menjadi sebuah usaha untuk tampil dan siap digunakan satu sama lian, saling meneguhkan dengan berbagai macam cara masing-masing pribadi menghayati hidup.

Seseorang yang tidak memiliki masa lampau, ia tidak dapat merayakan masa kini dan tidak menerima hidup sebagai miliknya sendiri. Cara orang berhubungan dengan masa lampaunya sendiri menjadi sangat penting bagi pengalaman hidup. Masa lampau dapat menjadi penjara yang mengurung selama-lamanya, merasa malu, dikejar-kejar rasa salah; atau sebuah alasan untuk memuji diri, kesombongan dan rasa puas diri. Ada orang yang berkata dengan sesal, "seandainya waktu dapat kembali, tentu akan kuhidupi dengan cara yang lain"; orang lainnya dengan penuh keyakinan berkata, "mungkin Anda akan berkata kalau saya tua dan lemah, namun lihatlah banyaknya piala yang saya dapatkan".

Orang yang merayakan kehidupannya tidak menjadikan masa lalu menjadi sebuah penjara atau kesombongan, akan tetapi menghadapi kenyataan sejarah dan sepenuhnya menerima sebagai unsur yang memungkinkan untuk menyatakan bahwa hal itu adalah pengalaman pribadi. Saat mengenang orang-orang yang telah mendahului (meninggal), kita akan menyadari telah ditangah-tengah sejarah dan mengakui telah dibawa ke tempat sekarang, berada diantara mereka yang telah menghayati hidup.

Seandainya masa lampau adalah kata terakhir, semakin tua ia akan memenjarakan diri. Apabila masa kini adalah saat yang terakhir untuk mendapatkan kepuasan, orang akan mencengkeram dengan nafsu yang besar dan mencoba untuk memeras sampai tetes yang terakhir kehidupan ini. Akan tetapi masa kini memberikan janji dan membentang di hadapan kita, memungkinkan kita untuk marangkul masa depan seperti halnya masa lampau.

Perayaan diartikan sebagai pengakuan atas masa kini, dengan mengenang masa lampau dan mengharapkan lebih lagi akan masa depan. Namun kenyataannya hal ini sulit, jarang terjadi, masa kini lebih sering ditolak daripada diterima. Ketika Yesus meninggalkan murid-Nya, Ia memberikan roti dan anggur sebagi kenangan akan apa yang pernah dilakukan sehingga la dapat terus hadir. Kita mengenang peristiwa itu, menaruh harapan kepada-Nya.

Merayakan adalah sebuah tantangan yang paling sulit, yang harus dihadapi oleh orang modern. Orang modern tidak sekedar makan dan minum, tetapi mengenal makan siang untuk keperluan usaha bisnisnya atau makan malam untuk menyelesaikan urusan-urusan, dan ia selalu berpikir hal yang akan terjadi besok. Masa lampau menjadi suatu kesempatan yang sudah digunakan atau yang tidak digunakan, masa kini menjadi hal kekuatiran mengenai masa depan yang selalu menjadi dambaan. Kebudayaan kita adalah kerja, tergesa-gesa, kuatir, dengan berbagai macam kesempatan. Kita hanya bagian yang sangat kecil sejarah dan hanya memiliki hidup yang pendek. Akan tetapi kalau kita membawa buah karya di tangan dan mempersembahkan kepada Allah dengan keyakinan yang mendalam, bahwa Dia mendengarkan dan menerima persembahan kita, hidup menjadi sebuah anugerah untuk dirayakan.

Friday, June 5, 2009

Arti Hidup dalam Pekerjaan

Saya terinspirasi dengan sebuah cerita dari sebuah buku renungan seperti berikut ini:

Seorang siswa yang masih muda pernah sekali datang kepada Santo Philipus Nerius dan mengatakan kepadanya bahwa dia hendak mempelajari hukum. “ Betapa bahagianya saya. Saya akan mempelajari hukum dan menjadi seorang cendikiawan."
Philipus bertanya. “dan sesudah itu apa?” “ Saya akan menjadi seorang ahli seorang ahli hukum terkenal dan memperoleh kemasyuran.”
“Dan sesudah itu apa?” “Kemudian saya akan sangat kaya dan mendirikan rumah yang megah dan indah.”
“Dan sesudah itu apa.?” "Kemudian saya akan menikah dan hidup senang sampai akhirnya sampai usia tua.”.
Kemudian Philipus mengajukan pertanyaan yang sama. "Francis, sesudah itu, apa ?” Francis tidak tahu lagi harus memberikan jawaban apa, Tetapi sesudah berpikir sejenak, dia menjawab. “Kemudian seperti yang lain saya akan mati.”
“Dan sesudah itu apa?” Orang muda itu merasa sangat terganggu, tetapi dia menjawab dengan agak berat "Kemudian saya akan menanti untuk mengetahui pengadilan yang ditimpakan atas saya." Francis berhenti di sini, dia tidak dapat memberi lagi jawaban lebih lanjut. Pertanyaan ini membuat dia mengubah semua rencana demi masa depannya.

Ada banyak hal yang aku dapatkan dari cerita itu.
Arti hidup dari setiap orang khas dan unik. Mencari arti hidup dapat merupakan tugas yang membingungkan, menantang dan menambah ketegangan batin. Dikatakan bahwa orang yang sehat selalu memperjuangkan tujuan yang memberikan arti kehidupannya. Perjuangan yang terus-menerus itu akan menghasilkan kehidupan yang dipenuhi semangat dan kegembiraan. Dalam parjalanan hidup ada kalanya suatu kekosongan/kehampaan yang akhirnya muncul sebagai perasaan bosan, masa bodoh, dan tanpa tujuan. kehidupan tidak mempunyai arti dan tidak punya alasan untuk meneruskan kehidupan ini. Frank mengemukakan adanya tiga cara untuk memberi arti pada kehidupan dengan melalui apa yang kita berikan pada dunia, apa yang kita ambil dari dunia, dan sikap kita terhadap penderitaan.

Victor Frank mengemukakan 3 faktor, yang merupakan hakekat dari eksistensi manusia yaitu: spiritualitas, kebebasan. dan tanggung jawab. Spiritualitas diartikan sebagai roh atau jiwa. Roh-lah yang menggerakkan kita untuk berbuat, hidup dan ada. Roh ini pula yang memampukan kita untuk hidup, tertawa dan sedih, hahagia dan setia. Tubuh kita memiliki roh. dan selalu berhubungan dengan asalnya roh yaitu Allah. Roh memampukan kita beriman dan percaya pada Allah. Iman itulah yang memberikan landasan bagaimana kita hidup dan berbuat. Kita adalah mahluk spiritual yang hidup di dunia materi, kebutuhan paling mendalam akan cinta kasih dan persahabatan tidak akan terpuaskan oleh materi. Manusia tidak hanya hidup dari roti saja. Kita ditempatkan di atas bumi ini tidak untuk mengumpulkan “mainan” tetapi untuk menuai karunia roh. Karunia ini diberikan kepada kita jika kita mengabdikan hidup kita pada sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, seperti jalan pelayanan di dunia (biarawan) atau adanya keluarga yang penuh kasih.

Kebebasan kita miliki dan kita perlu menggunakannya untuk memilih bagaimana kita akan bertingkah laku. Ada teriulis, "jikalau kamu tetap di dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakanmu " (Yoh 8:31b-32)

Menceritakan kebebasan pada diri kita sendiri, dan orang lain adalah suatu pembebasan, kebenaran memerdekakan dan membuat kita bebas. Kita jangan sampai didikte oleh faktor-faktor non spiritual (seperti insting), atau kondisi lingkungan. Mereka yang bebas tidak berkeinginan untuk menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sendiri. Meskipun ia memainkan peran-reran sosial untuk memenuhi tuntutan dari orang lain atau situasi-situasi. Oleh Carl Rogers dinyatakan bahwa semakin seseorang itu sehat (secara psikologis), makin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak sebagai reaksi terhadap situasi-situasi yang berubah. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa paksaan antara alternatif, pikiran dan tindakan. Perasaan bebas menjadikan orang berfungsi sepenuhnya.

Kita dituntut untuk tanggung jawab terhadap pilihan. "Hiduplah seolah-olah anda hidup untuk kedua kalinya, dan bertindak salah untuk pertama kalinya, kira-kira demikian anda bertindak sekarang." Jika kita berhadapan dengan situasi ini, kita akan tetap menyadari tanggung jawab yang kita miliki.

Frank mengemukakan bahwa orang sehat akan memikul tanggung jawab, menggunakan waktu dengan bijaksana agar karya dan kehidupan tetap berkembang, meskipun kodrat kehidupan singkat dan fana. Apabila kita mati sebelum kita selesai memahat bentuk kehidupan kita, apa yang telah kita kerjakan tidak ditiadakan. Suatu kehidupan yang penuh arti ditentukan oleh kualitasnya, bukan oleh usia yang panjang.

Ketrampilan dan tugas menjadi salah satu kriteria kepribadian matang dari Gordon Allport. Menurutnya, tidaklah cukup hanya memiliki ketrampilan-ketrampilan yang relevan, telapi kita juga harus menggunakannya secara ikhlas, antusias, melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita. Tidak akan mungkin kita temukan orang-orang yang sehat dan matang yang tidak mengarahkan ketrampilannya pada pekerjaan mereka. Komitmen, orang-orang sehat begitu kuat sehingga sanggup menenggelamkan semua pertahanan yang berhubungan dengan ego dan dorongan (seperti kebanggan dan jabatan) ketika terbenam dalam kejahatan.

Dedikasi terhadap pekerjaan ada hubungannya dengan tanggung jawab. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan kesehatan psikologis yang positif tanpa melakukan pekerjaan yang penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen, dan ketrampilan.

Untuk mencapai dan menggunakan spiritualitas, kebebasan, dan tanggung jawab tergantung pada kita. Tanpa ketiga-tiganya, tidak mungkin menenemukan arti dan maksud dalam kehidupan ini. Pilihan-pilihan sungguh tergantung pada kita saja. Orang-orang lain dapat menganjurkan jalan yang harus diikuti, tetapi hanya diri kitalah yang dapat mengatakan bagaimana jalan itu berhasil atau tidak, pilihan itu benar dan salah.

++++ Semoga artikel ini bermanfaat bagi para pembaca. Kritik, saran, dan tanggapan saya terima dengan senang hati.

Thursday, May 7, 2009

MENGHITUNG HARI ( Sebuah Refleksi Ulang Tuhun )

5 Bola Kehidupan

Hidup dapat dibayangkan sebagai suatu permainan ketangkasan dimana kita harus memainkan keseimbangan 5 buah bola yang dilempar ke udara. Bola-bola tersebut bernama: pekerjaan, keluarga, kesehatan, teman, dan spirit. Tugas kita adalah harus menjaga agar ke-5 bola ini seimbang di udara. Pekerjaan hanyalah sebuah bola karet. Jika kita menjatuhkannya, maka ia akan dapat memantul kembali. Tetapi empat bola yang lain: keluarga, kesehatan, teman, dan spirit tersebut terbuat dari gelas. Dan jika kita menjatuhkan salah satunya maka ia akan terluka, tergores, pecah, atau bahkan hancur berkeping-keping. Dan mereka juga tidak akan kembali. Bagaimana menyeimbangkannya, membuat semua bola tidak jatuh ?

Untuk apa sebenarnya kita bekerja dengan bangun pagi, dan tidur larut malam? Untuk diri kita sendiri, keluarga, komunitas, atau masyarakat? Seringkali terlalu giat bekerja membuat lupa istirahat. Orang justru merasa sepi dan kosong tak berarti oleh karenanya. Mungkin kita seringkali berpikir bahwa karena kita punya banyak pekerjaan dan urusan, lalu hidup bersama menjadi kurang berarti. Yang muncul akhirnya adalah: selesaikan tugas dan urusan masing-masing, dan jangan mengganggu urusanku, karena aku juga tidak mengganggu urusanmu.

Hidup kita menjadi rapuh karena kita sibuk membandingkan nilai kita dengan membandingkan nilai orang lain. Tujuan dan sasaran kita didasarkan apa yang orang lain anggap itu penting. Sesuatu yang dekat di hati dianggap remeh, dijauhkan, walaupun itu bagian yang membuat kita hidup. Nilai hidup kadang kala hilang sehingga banyak hal menggerogoti jiwa kita. Membiarkan hidup terpuruk dengan hidup di “masa lampau” atau dalam mimpi masa depan. Menyerah ketika masih ada sesuatu yang dapat kita berikan. Takut mengakui bahwa kita tidak sempurna. Takut menghadapi resiko. Menutup hati dengan cinta yang masuk dalam hidup kita. Berlari, meskipun hidup tampak sangat cepat, sehingga kita lupa dimana kita berasal dan sedang menuju kemana. Lupa, kebutuhan emosi terbesar dari seseorang adalah kebutuhan untuk merasa dihargai, yang itu kita dapat dari orang-orang didekat hidup kita.

Setiap manusia di dunia ini mengalami siklus kehidupan yaitu lahir, menjalani hidup dan akhirnya mati. Setiap orang yang mengalami kehidupan di dalam dunia terjadi bukan karena kehendaknya sendiri melainkan kehendak Tuhan. Pemazmur mengatakan bahwa hidup seperti rumput, sebentar kering dan mati. Ada pula pepatah jawa mengungkapkan “ urip iku mung mampir ngombe ”, hidup itu hanya singah untuk minum. Siapa yang tahu para wisatawan yang sedang bergembira menikmati keindahan alam akan tekena bom, atau siapa yang tahu rumah akan roboh dan rata dengan tanah karena gempa bumi.


Panjang Umur Seperti Pohon Pinus

Awal tahun selalu menyisakan sebuah pertanyaan: akankah kita dapat menyambut dan merayakan awal tahun yang akan datang seperti sekarang? Benar bahwa hidup di dunia ini penuh ketidakpastian. Apa yang ada pada sekarang, keluarga, pekerjaan, kesehatan, harta-benda, bahkan nyawa kita bisa hilang dari kita diwaktu yang kita tidak tahu. Dan makin banyak orang menilai hal yang paling tidak bisa dipastikan adalah masa depan, maka orang menyusun upaya sedemikian rupa untuk mengurangi kekuatiran akan masa depan dengan berbagai rencana investasi. Sampai-sampai karena kuatir dan cemas itu, banyak orang menjadi tidak bisa membedakan antara tujuan dan sarana hidup, tidak ada rasa puas dan syukur. Orang menjadi jauh untuk merayakan hidup itu sendiri, sesuatu yang pantas disyukuri.

Menghitung hari dapat membuat kita menjalani hidup dengan lebih bijaksana, paling tidak sadar untuk sejenak. Kita masing dapat mengingat bahwa jabatan, popularitas, harta, pekerjaan, dan kesehatan yang dapat berlalu. Kita menjadi tidak lagi menggantungkan diri pada semua itu, minimal kita tidak akan setres karena kelekatan duniawi. St Ignatius dalam Latihan Rohani menulis: “Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan. Karena itu, manusia harus mempergunakannya, sejauh menolong untuk mencapai tujuan tadi dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut, sejauh itu merintangi dirinya”.

Yang lain adalah mengingat orang-orang yang ada disekitar kita : anak, istri, suami, orang tua, teman, akan berlalu. Maka mereka pantas untuk kita hargai. Sebab kalau sudah tidak ada, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kemudian mengingat waktu yang kita punya akan berlalu, maka tidak perlu menunda-nunda lagi. Hidup kita akan berlalu, cepat atau lambat, tetapi itu tidak terlalu penting. Karena yang lebih penting adalah bagaimana kita menjalani hidup ini. Apa yang ingin dikenang orang kepada kita?

Kebudayaan cina menjunjung tinggi umur panjang sebagai ukuran kebahagiaan. Lambangnya adalah pohon pinus, biasa hidup di pegunungan, umurnya dapat mencapai empat ratus tahun. Sebab itu sebagai lambang umur panjang, pohon pinus sering muncul dalam lukisan cina. Kaisar Qin Shi Huangdi membentuk tim untuk meneliti dampak kimiawi pelbagai mineral untuk memperpanjang umur. Pelbagai tanaman dan ramuan diteliti khasiatnya, jenis-jenis senam dan jurus dikembangkan.

Demikian pula meditasi dilihat sebagai upaya memperpanjang umur, dimana orang mencari keheningan, ketenangan, berdamai dengan diri sendiri, orang lain, dan alam. Sebuah papatah Cina berkata “Gaya hidup kura-kura, tidak gundah atau marah, tidak bertingkah atau serakah, hidupnya seratus tahun”. Pohon pinus yang tua memberi pengayoman dan perlindungan yang lebih teduh. Awet hidup menjadi baik dan bijak, adalah hati penuh damai yang dapat membayar semua.


Mendaki Puncak

Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Manarik sekali kalau kita mencermati ungkapan ini. Benar kalau dikatakan dengan berjalannya waktu, akan semakin tua usia, namun belum tentu yang tua itu orang yang dewasa. Kalau orang ingin dewasa, itu adalah pilihan hidup dan harus ada usaha yang dilakukan untuk itu. Salah satu ciri orang yang dewasa adalah hidupnya penuh hikmat dan kebijaksanaan. Maka kita minta kepada pemberi waktu supaya dimampukan untuk menghitung hari-hari yang kita lalui agar dapat memperoleh hati yang bijaksana. Menghitung hari bukanlah menghitung secara harafiah, tetapi berusaha membuat hari-hari yang kita lalui bermakna dan belajar tentang hidup. Kita harus berubah dari waktu ke waktu.

Hidup ini indah, terutama jika kita mengetahui posisi dimana kita berada. Sayang kita tidak selalu bisa melihat rencana pemilik hidup di balik peristiwa dalam hidup kita, terutama kalau menyakitkan dan sulit kita terima. Kita cenderung melarikan diri, mengelak dari permasalahan, dan akhirnya mencari kambing hitam. Oleh karena itu, ketika sukacita mewarnai hari-hari kita, janganlah kita berpuas hati, lalu kita menjadi lupa diri, egois, lepas akan kodrat kita sendiri.

Dalam hal hidup rohani, St Ignatius mengungkapkan bahwa, dalam diri kita ada tiga kekuatan yang mempengaruhi pemikiran dan cara bertindak, yaitu: kodrat kita sendiri, roh baik, dan roh jahat. Oleh karenanya, untuk mengambil keputusan yang tepat, tidaklah cukup hanya sadar dengan tujuan hidup kita, tetapi juga perlu membedakan macam-macam gerakan roh.

Paul G. Stoltz seorang pendaki, dalam bukunya Adversity Quontients mengatakan bahwa tak semua pendaki mampu menaklukkan puncak gunung sebab pendakian harus melalui proses panjang. Ada tiga karakter utama para pendaki: pertama, Quitters, yaitu pendaki yang langsung mengurungkan niatnya setelah mendengar atau melihat sendiri keadaan yang akan dilalui. Kedua, champers, yaitu pendaki yang tidak melanjutkan ke puncak, karena sudah mendapatkan tempat yang indah sebelum ia mencapai puncak. Ketiga, cruisers, yaitu para pendaki yang bertekad bulat manaklukkan puncak gunung.

Ibarat puncak gunung adalah tantangan hidup, maka karakter orang juga ada tiga, yaitu: mundur dan lari menjauh dari lintasan, mogok tengah jalan, atau maju terus. Dengan Feeling yang terwujud dalam pengetahuan, kecerdasan, ketrampilan, dan semangat (spiritualitas) semoga dapat menjadi sarana meneruskan kembali langkah mencapai “puncak gunung” dalam hidup kita masing-masing.

*) Artikel ini bisa anda baca pada rubrik Jendela, majalah Bianglala, edisi 048/THVIII/MEI 2009

Friday, March 13, 2009

Mencari Pemimpin yang Sebenarnya


Find and See

Pelikan adalah burung penangkap ikan yang ulung. Tapi di kota Monterey, California hal ini tidak terjadi. Di sana tidak perlu bersusah mendapat makanan, ikan-ikan berserakan karena banyak pabrik pengalengan ikan. Tetapi hal menakutkan terjadi tatkala ikan mulai habis dan pabrik tutup. Karena terlalu lama burung itu tidak menangkap ikan, mereka menjadi gemuk dan malas, ikan sulit didapat, sehingga satu persatu mereka mati. Berbagai kelompok pecinta alam berusaha menyelamatkan, hingga suatu saat terpikirkan untuk mengimport burung pelikan dari daerah lain. Hasilnya luar biasa. Pelikan baru segera berburu ikan dengan giat, dan perlahan pelikan yang kelaparan tergerak berburu ikan juga. Dan akhirnya semua pilikan di sana kembali hidup dengan berburu.

Les Giblin, pakar hubungan manusia menjelaskan bahwa manusia belajar sesuatu dari panca inderanya; 1% dari rasa, 1,5% dari sentuhan, 3,5 dari penciuman, 11% dari pendengaran, dan 83% dari penglihatan. John C Maxwel, pakar kepemimpinan membuktikan bahwa, seseorang dapat memimpin dari: 5% akibat krisis, 10% karunia alami, dan 85% karena pengaruh dari pemimpin mereka.


Bekal dan Wawasan Pemimpin

Kepemimpinan di tingkat manapun, dari tingkat yang paling rendah sampai sampai pada tingkat yang paling tinggi, mempengaruhi kita dalam bersikap, kinerja, dan produktifitas. Sebelum menjabat sebagai pimpinan, bekalnya berbeda-beda. Ada pemimpin yang tidak mempunyai bekal apa-apa, sedikit, lumayan, dan ada yang memang mempunyai bekal cukup. Sebelum menjabat, seharusnya ia sudah mengikuti seorang pemimpin dan terlibat dalam kepemimpinannya. Ia telah dididik dan dilatih dalam hal kepemimpinan. Ia beminat dan mendisiplinkan diri untuk bersiap menjadi pemimpin. Dan menurut pengamatan orang serta pengalaman pribadi, ia memiliki bakat di bidang kepemimpinan. Seberapapun bekalnya, hal itu mempengaruhi pelaksanaan kepemimpinannya dan pada gilirannya mempengaruhi prestasi semua orang yang dipimpinnya.

Berdasarkan wawasannya, ada 4 macam pemimpin. pemimpin yang tidak berwawasan ke masa depan menjalankan tugas-tugasnya berdasarkan tradisi dan kebiasaan yang berlaku dalam lembaga. Jika ada hal dan tantangan baru, ia spontan menolak atau menganggapnya tidak ada. Ada pula pemimpin berwawasan tetapi tidak berbuat sesuatu mewujudkannya karena malas, tidak mau pekerjaannya tambah, takut resiko, atau terjerat kemapanan dan rasa aman dalam pola kerja lama. Bagi pemimpin yang memiliki wawasan dan berbuat untuk mewujudkan, ia terus membayangkan, bermimpi masa depan, dan berusaha menyusun strategi pelaksanaannya, tetapi tidak mengikutsertakan bawahan/rakyat. Sebagai bawahan/rakyat tentunya ragu, dan penuh tanya akan apa yang dikerjakan. Pemimpin yang berwawasan dan berbuat bersama bawahan selalu membagi wawasannya kepada bawahan, meyusun rencana dan strategi, dan mengambil langkah-langkah guna mewujudkan bersama bawahan. Konsekuensinya sebagai bawahan mendapat tugas dan tanggung jawab lebih karena harus ikut terlibat secara aktif.


Sifat-Sifat Pemimpin

Sifat-sifat Pemimpin juga berpengaruh pada prestasi oarang yang dipimpinnya. Pertama, sifat mau belajar dan mempengaruhi diri terus menerus penting bagi pemimpin karena dengan demikian seorang pemimpin akan tetap up to date dan mampu menanggapi tantangan kerja yang terus berubah dan berkembang. Kedua, hidup dan kerja yang diorientasikan pada pelayanan. Bagi pemimpin yang berorientasi pada hidup dan kerja yang baik, uang tidak dijadikan tujuan utama dalam bekerja. Jika uang yang dijadikan tujuan utama, maka pelayanan berupa produk dan jasa dapat dikesampingkan. Kata orang bijak untuk membuat orang lain memiliki sikap hormat dan respek yang tulus bukan diperlukan tongkat, tapi kasih; bukan sikap otoriter, tapi sikap melayani; bukan dengan ancaman tapi teladan.

Ketiga, gaya hidup seimbang. Hal ini berarti memadukan secara proporsional unsur-unsur fisik, emosional, mental serta spiritual, dan secara seimbang mengembangkannya. Pemimpin yang seperti ini tidak bersikap ekstrim dalam menghadapi masalah, dan tidak memihak dalam memutuskan masalah. Keempat, mempercayai bawahan. Dengan mempercayai kita, pemimpin tentunya dapat bekerja sama dengan kita, dan bersama membentuk sinergi mencapai tujuan. Kelima, pandangan terhadap makna hidup. Makna hidup menjadi kunci dalam hidup dan perilakunya. Pemimpin yang beridealisme akan memandang hidup sebagai medan untuk berkembang dan berjasa, sedangkan yang tidak akan memandang hidup sebagai medan untuk mendapatkan hal-hal guna memuaskan diri dan memenuhi kebutuhannya sendiri.


Tingkat dan Lingkup Kepemimpinan

Tingkat kepemimpinan adalah level atau tangga pijakan pada waktu menjalankan kepemimpinan. Pemimpin yang berorientasi pada kedudukan (status leadership) mendasarkan kepemimpinannya pada status atau kedudukannya sebagai pemimpin. Yang menjadikan pegangan kerja adalah jabatan, lingkup hak dan wewenang, protokol, tradisi, kebiasaan, dan tatanan lembaga. Pemimpin tingkat ini, dalam melaksanakan kepemimpinan, suka menggunakan kekuasaan dan tak jarang menggunakan intimidasi ancaman, dan kekerasan. Banyak diantara mereka elergi terhadap kritik dan sulit bekerja sama dengan bawahan/rakyat yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Model komunikasi satu arah, bentuknya berupa pengarahan, instruksi dan perintah. Kepemimpinan yang berorientasi pada relasi (human relation leadership) kuncinya adalah hubungan dengan orang yang ia pimpin. Dengan menjaga dan mengembangkan hubungan baik dengan orang-orang yang ia pimpin, ia mampu melaksanakan kepemimpinannya secara efektif dan tahan lama. Kecenderungan pemimpin seperti ini adalah melupakan tugas, urusan, dan tujuan lembaga sebab yang menjadi kesibukannya adalah membina hubungan baik dan mencegah konflik.

Kepemimpinan yang berorientasi pada produksi (produktion leadership), pusat perhatian pemimpin tingkat ini adalah kinerja, produk, dan pencapaian hasil kerja yang dicapai, yang menjadi sasaran adalah lembaga. Bawahan berhubungan bukan hanya untuk sekedar berbaik-baik satu sama lain, tetapi bekerja sama mencapai tujuan bersama, maka terciptalah semangat kerja pada kita (dikalangan bawahan). Kepemimpinan berorientasi pengembangan SDM (human reource developer leadership) berhasil menjalin hubungan baik dengan bawahan dan mampu membawa kita (bawahan) mencapai tujuan lembaga sekaligus mengembangkan SDM. Berkat perlakuan atasan yang seperti ini, bawahan akan merasa dihargai, dipercaya, dan ditantang. Keempat tingkatan ini terdapat pada pemimpin kita.

Lingkup kepemimpinan merupakan hal-hal yang menjadi bagian dan tugas pemimpin. Hal ini meliputi bidang pribadi, antar pribadi, manajerial, dan organisasional. Pemimpin bukanlah posisi, malainkan pelayanan, untuk berhasil dalam tugas kepemimpinan, ia perlu menguasai bidang-bidang kepemimpinan sehingga kita sebagai bawahan/rakyat percaya kepada kemampuan kepemimpinannya, dan akhirnya kita juga terdorong untuk mengikuti pengarahan dan petunjuknya. Karena berada di depan dan berjalan di muka, atasan seharusnya menjadi panutan yang dapat dianut dan diteladani dalam perilaku dan pola kerjanya.

Seorang pemimpin juga diharapkan memiliki kredibilitas yang ditampakkan dalam tindakan. Jika pemimpin memiliki kredibilitas, kita (bawahan/rakyat) tentunya akan merasa memiliki dan terlibat (communited) terhadap lembaga/negara, memiliki semangat, dan loyal. Apabila pemimpin tidak memiliki kredibilitas, kita akan berkerja dengan motifasi rendah. Sikap akan mendua, dimuka umum memuji, tetapi dalam hati tidak bangga sama-sekali dan bahkan menyimpan kekecewaan.


Darma Pemimpin

Pujangga R. Ng. Ranggawarsita, seorang pujangga ternama dari zaman Surakarta abad ke-19 mengungkapkan ada 8 darma pemimpin. Anguripi (memberi hidup) berarti menghormati dan menjaga kehidupan sesuai hukumnya. Menciptakan semua berkembang lahir batin secara bebas dan selaras, menghayati makna hidup, saling menghargai, dan menjaga hidup bersama. Angrungkepi (medekap dengan tengkurap) dimaknai menguasai, mengamankan, membela dengan segenap daya. Seorang pemimpin sekurang-kurangnya punya wibawa untuk menghimpun, dan membangun suatu sistem yang kuat dan kompak, disiplin dan bersahaja, serta mampu mengendalikannya. Angruwat (menghindarkan malapetaka) yaitu menggalang upaya mengatasi keadaan buruk. Secara lahiriah melaksanakan upaya nyata yang bertahap dan berkesinambungan dalam kerjasama dengan berbagai pihak yang berkepentingan. Secara spiritual diadakan doa dan permohonan agar Allah menyucikan dan memberkati.

Anata (menata), yaitu menjabarkan peraturan menjadi tatanan dalam berbagai bidang yang berlaku adil, dan benar bagi semua. Menata dan membangun tempat berkarya secara benar, disiplin, jujur, terencana, dan bertahap bagi semua. Menghantar warga hidup sehat dan teratur dengan teladan tulus dan nyata. Amengkoni (mengikatkan), yaitu menampung dan menyatukan segenap warga supaya tidak tercerai berai dan tercecer. Menjaga otonomi dan kedaulatan dengan tetap menjalin persahabatan dan kerjasama dengan semua pihak luar. Angayomi (teduh), yaitu menciptakan rasa aman dan kerasan dalam hidup, belajar dan berkarya, usaha maupun saat istirahat untuk mawas diri dan menimba kehidupan iman. Angurubi (membuat menyala, hangat dan terang), yaitu menghidupkan sikap-tindak yang adil dan benar, jujur dan rapi, sehingga mengikis watak angkara dan perilaku serampangan. Menghangatkan kegairahan hidup, belajar, berkarya, berprestasi, dan berjasa bagi semua. Amemayu (mempercantik), yaitu menjaga harmoni, memperindah, memperluas dan mempertinggi alam dan segala kehidupannya, semua berkesempatan tumbuh dan berkembang secara optimal.

Sungguh tinggi dan tinggi memang darma itu, namun itulah idealnya seorang pemimpin. Tentu pemimpin yang dimaksudkan tidak atasan kita saja, karena di tingkat dan lingkungan manapun kita semua menjadi pemimpin sekaligus menjadi bawahan.


(tulisanku ini aku persembahkan untuk bangsa dan negaraku yang akan menyambut PEMILU wakil rakyat dan Presiden)

Friday, March 6, 2009

Pilihan Hidup


Orang-orang yang berhasil dalam hidupnya keseharian menumbuhkan kebiasaan untuk mencapai apa yang diinginkan. Kebiasaan adalah pola perilaku yang terdiri dari tiga komponen yang meliputi: pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Kebiasaan merupakan hasil proses belajar, bukan bawaan yang diturunkan. Kita tidak perlu menjadi korban dari keadaan sekitar atau latar belakang pendidikan kita. Sebagai manusia, kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri.

Manusia memiliki kesadaran diri, imajinasi, suara hati, dan kehendak bebas. Tingkah laku merupakan hasil dari keputusan pribadinya. Kita harus bergerak dengan nilai-nilai yang sudah kita pikirkan secara cermat, seleksi, dan hayati. Untuk menjadi manusia bermutu perlu: mengenal, menerima, mengampuni, menjadi, menguasai, menghargai, mengembangkan diri, dan membagi diri sendiri bagi sesama.

Penghalang perkembangan mutu hidup adalah: egoisme, kesombongan diri ( menganggap diri paling benar), kepicikan budi (menilai diri paling baik), dan kekerdilan hati yang mengurung diri. (harga diri rendah, melihat diri serba negatif, tidak menerima apa adanya, risau mengenai penilaian orang terhadap dirinya, mencari pengakuan dan penerimaan orang lain, serta ketakutan). Bagaimana kita akan menyikapi penghalang-penghalang itu?

Banyak kesulitan kita yang sebenarnya buatan kita sendiri, walaupun mungkin kita sulit menerimanya. Kita menghadapkan diri dengan kesulitan yang potensial dengan memilih untuk berada di suatu tempat tertentu, dan kalu akibatnya kita mendapat kesulitan, kemudian kita dipenuhi dengan rasa belas kasihan kepada diri sendiri. Itu semua bisa dihindarkan kalau kita membuat pilihan yang berbeda. Apa pilihan hidup anda sekarang?

Wednesday, March 4, 2009

Memerbaiki Mutu Hidup


Ketika aku melakukan perjalanan wisata menaiki lorong candi di Borobudur terlihat di samping kiri kanan relief-relief yang menggambarkan kehidupan kita. Pada tiap tingkatan itu terukir gambaran tingkah laku manusia. Saat itu aku berhenti, aku merasa tempat itu bukan tumpukan batu semata. bila hidupku digambar barang kali tidak sampai pada tataran atas. Aku merasa tempat ini (candi borobudur) bukan hanya milik agama tertentu, dan setiap orang dapat belajar refleksi diri. sampai pada tingkat mana mutu hidup kita?